Selamat datang di situs resmi Lembaga Dakwah Nahdaltul Ulama Sumenep
LDNU SUMENEP

Membaca Kitab kitab Tentang Bid'ah

Oleh: KH. Ahmad Halimy, SE., M.Pd.I. (Sekretaris Lembaga Dakwah NU Kab. Sumenep)

Membaca kitab kitab tentang bid'ah karya Syaikh Abdul Ilah Arfaj, Syd. Abdullah Mahfudh al Haddad, Syd. Abdullah al Ghumari, Syaikh Saif al Ashri dan Syaikh Abdul Fattah Al Yafii akan memberikan kita pemahaman yang lebih luas tentang pemahaman ulama' tentang bid'ah. 
Secara umum kesimpulan saya :
1. Bid'ah dalam arti bahasa (yakni perkara baru) telah ada sejak masa Nabi, dan sikap Nabi terhadapnya beragam. 
ada yang positif (memuji, menganjurkan bahkan menyebutnya sebagai sunnah). Seperti sikap Nabi terhadap doa i'tidal seorang sahabat, terhadap sahabat yang meruqyah dengan al Fatihah, sahabat Bilal yang berwudlu' setiap akan adzan dan sholat dua rakaat setelah wudlu', sahabat Khubaib yang sholat 2 rakaat sebelum dihukum mati, sahabat sahabat yang berkumpul untuk berdzikir dan sikap Nabi terhadap sahabat mengimami dengan selalu membaca Surat Al Ikhlash. 
ada yang negatif (melarang, mengecam hingga cuma menegur), seperti sikap Nabi yang menyalahkan sahabat yang mengimami lama, atau sholat sampai diikat untuk menahan kantuk, atau sahabat yang bertekad tak menikah, tak tidur malam dan berpuasa seumur hidup. 
ada juga yang netral  (membiarkan), seperti sikap Nabi pada sahabat Kholid bin Walid yang makan biawak Arab. 
Sayyid Abdullah Mahfudh Al Haddad merinci beragam riwayat soal sunnah Nabi menghadapi bid'ah ini dalam kitab beliau as Sunnah wal Bid'ah. 
Semua riwayat ini sebenarnya adalah dalil yang sangat kuat tentang adanya bid'ah hasanah dan bid'ah sayyiah, bahkan mubahah. 
Semua riwayat ini sebenarnya juga menegaskan bahwa melarang perkara baru hanya karena dia baru, adalah sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Nabi dalam menghadapi bid'ah alias perkara baru. Jadi ini adalah sebuah bid'ah dalam menyikapi bid'ah.
2. Makna bid'ah dalam kullu bid'ah dlolalah adalah makna istilahi alias terminologis. Bukan makna bahasa. Lalu apa makna istilah untuk bid'ah?  
Di sini ada beragam pendapat. 
Namun sepertinya kebanyakan ulama' menyepakati definisi Imam Syafi'iy. Beliau menyatakan bahwa bid'ah yang dimaksud dalam hadits itu adalah bid'ah sayyiah, yaitu : sesuatu yang bertentangan dengan al Qur'an dan Sunnah.
Definisi ini tentu saja akan berbeda implikasinya dengan definisi yang sekarang dipegang salafi kontemporer : bid'ah adalah sesuatu yang tidak ada dalam sunnah. Definisi yang sebenarnya lebih dekat dengan makna bahasa, yang kalau tak dibatasi akan menjadikan barang baru seperti HP,  mobil dan sebagainya sebagai bagian dari bid'ah. Maka mereka lalu mengembangkan pembagian baru : bid'ah dalam urusan ibadah dan non ibadah. Satu pembagian kontemporer yang tak dikenal di masa salaf. 
Dengan definisi ini maka salafi kontemporer akan menolak suatu perkara hanya dengan dalil tak dilakukan di zaman Nabi, walaupun mereka tak bisa sepenuhnya konsisten dengan sikap ini. 
Ulama' mayoritas ikut definisi Imam Syafii. Setiap perkara baru akan diuji : apakah sesuai dengan Qur'an Sunnah atau bertentangan dengan Qur'an Sunnah, bukan apakah ada atau tidak ada dalam sunnah 
Di sinilah ijtihad berkmbang, dan Islam menjadi luas dan luwes. Pemahaman inilah yang menurut hemat saya sesuai dengan pemahaman Nabi dan para salaf. Sementara pemahaman pertama sebenarnya banyak dibangun berdasar pendapat ulama' kholaf seperti Ibn Taimiyah dan asy Syathibi. 
WalLahu a'lam

LDNU SUMENEP

About LDNU SUMENEP -

Silahkan koment dan berikan masukan anda tentang apa yang kami tulis, sehingga ada masukan yang bersifat positif demi tercapai ijtihad hukum yang baik.

Subscribe to this Blog via Email :