Selamat datang di situs resmi Lembaga Dakwah Nahdaltul Ulama Sumenep
LDNU SUMENEP

Nahi Munkar menghadapi Narkoba

Bahtsul Masil PCNU Sumenep yang dilaksanakan Sabtu, 18 Jumadits Tsaniyah 1440 H./23 Pebruari 2019 M bertempat di PP. NASY'ATUL MUTA'ALLIMIN Gapura memperoleh beberapa hasil bahasan. Musyawarah yang diikuti oleh beberapa ulama' yang telah ditetapkan pada daftar dibawah ini:
Mushahhih  : KH. Hafidzi Syarbini
                      Dr. KH. A. Shafraji, M. Pd. I
Muharrir     : KH. Zainur Rahman Hammam, S. Ag
                      K. Bahrul Widad Suyuthi

Pimpinan Sidang  : Ust. Zainal Abidin, M. Pd. I
Notulen.      : Ust. Ahmad Fauzan

Deskripsi Masalah : Maraknya penggunaan narkotika dan obat terlarang lainnya semakin tak terbendung. Hal itu terbukti dengan semakin massifnya pendistribusian barang tersebut di kalangan anak-anak remaja. Secara khusus, Jawa Timur pernah dinyatakan sebagai daerah provinsi dengan persebaran narkoba terbesar ke-2 di tingkat nasional dengan jumlah total pengguna sebanyak 1.145.839 pengguna. Padahal larangan penyalahgunaan narkotika sudah ditegaskan dalam Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009, bahkan ada lembaga Negara yang secara khusus menangani kasus-kasus tindak pidana penyalahgunaan narkotika. Namun ironisnya, penanganan kasus narkoba tampak kurang serius dan tuntas hingga ke akar-akarnya. Masyarakat justru dikejutkan dengan pengakuan terpidana mati kasus narkoba, Fredy Budiman yang secara terang-terangan mengungkapkan bahwa selama beberapa tahun bekerja sebagai penyelundup, ia terhitung menyetor Rp 450 Miliar ke BNN dan 90 Miliar ke oknum pejabat Mabes Polri.
Pertanyaan :
a. Dalam konteks kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, apakah dibenarkan masyarakat bersikap apatis (tidak peduli) dalam mencegah penggunaan obat-obat terlarang dengan alasan sudah ada aparat penegak hukum yang bertanggung jawab ?
b. Bagaimana konteks amar ma’ruf nahi mungkar yang harus direalisasikan oleh umat islam dalam menanggulangi maraknya kejahatan distribusi obat-obat terlarang ini ?
Sail: LBM MWC NU Gapura

Jawaban
a. Tidak dibenarkan, karena setiap orang mukmin berkewajiban mencegah kemungkaran sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, minimal mengingkari kemungkaran tersebut.
الغنية لطالبي طريق الحق- (ج 1 / ص 51)
فالمنكرون ثلاثة اقسام قسم يكون انكارهم باليد وهم الائمة والسلاطين والقسم الثانى انكارهم بالسان دون اليد وهم العلماء والقسم الثالث انكارهم بالقلب وهم العامة
روضة الطالبين وعمدة المفتين - (ج 4 / ص 4)
وأما صفة النهي عن المنكر ومراتبه فضابطه قوله صلى الله عليه وسلم " فليغيره بيده فإن لم يستطع فبلسانه " فعليه أن يغير بكل وجه أمكنه ولا يكفي الوعظ لمن أمكنه إزالته باليد ولا تكفي كراهة القلب لمن قدر على النهي باللسان وقد سبق في كتاب الغصب صفة كسر الملاهي وجملة متعلقة بالمنكرات وينبغي أن يرفق في التغيير بالجاهل وبالظالم الذي يخاف شره فإن ذلك أدعى إلى قبول قوله وإزالة المنكر وإن قدر على من يستعين به ولم يمكنه الاستقلال استعان ما لم يؤد ذلك إلى إظهار سلاح وحرب فإن عجز رفع ذلك إلى صاحب الشوكة وقد تقدم هذا في كتاب الصيال فإن عجز عن كل ذلك فعليه أن يكرهه بقلبه
b. Konsep amar ma’ruf nahi mungkar dalam kasus maraknya kejahatan distribusi obat-obat terlarang sama dengan kemungkaran lain. Salah satu tahapan yang bisa ditempuh antara lain:
1. Memperkenalkan /memberi tahu (tentang norma agama yang berisi larangan-keharaman)
2. Menasihati (dengan ucapan yang lemah lembut)
3. Memberikan peringatan keras  (tanpa menggunakan kata yang keji dan kotor)
4. Mencegah dengan tindakan yang nyata semisal pemberian sangsi, dsb (jalan yang  ditempuh tentu harus sesuai prosedur hukum yang berlaku)
إحياء علوم الدين - (ج 2 / ص 177)
الباب الرابع في أمر الأمراء والسلاطين ونهيهم عن المنكر. قد ذكرنا درجات الأمر بالمعروف وأن أوله التعريف، وثانيه الوعظ، وثالثه التخشين في القول، ورابعه المنع بالقهر في الحمل على الحق بالضرب والعقوبة. والجائز من جملة ذلك مع السلاطين الرتبتان الأوليان وهما: التعريف والوعظ. وأما المنع بالقهر فليس ذلك لآحاد الرعية مع السلطان، فإن ذلك يحرك الفتنة ويهيج الشر، ويكون ما يتولد منه من المحذور أكثر، وأما التخشين في القول كقوله: يا ظالم يا من لا يخاف الله وما يجري مجراه فذاك إن كان يحرك فتنة يتعدى شرها إلى غيره لم يجز، وإن كان لا يخاف إلا على نفسه فهو جائز بل مندوب إليه. فلقد كان من عادة السلف التعرض للأخطار والتصريح بالإنكار من غير مبالاة بهلاك المهجة والتعرض لأنواع العذاب لعلمهم بأن ذلك شهادة

LDNU SUMENEP

About LDNU SUMENEP -

Silahkan koment dan berikan masukan anda tentang apa yang kami tulis, sehingga ada masukan yang bersifat positif demi tercapai ijtihad hukum yang baik.

Subscribe to this Blog via Email :