Selamat datang di situs resmi Lembaga Dakwah Nahdaltul Ulama Sumenep
LDNU SUMENEP

DILEMA WALI NIKAH ANAK ZINA


Deskripsi
Hamil di luar nikah akhir-akhir ini nampaknya telah menjadi hal biasa. Sebut saja Anton dan Tini, pasangan tersebut sudah telanjur melakukan hubungan seks di luar nikah. Demi menutupi aib keluarga, keduanya melangsungkan pernikahan setelah kandungan membesar. Sebelum enam bulan dari pernikahan, anak hasil hubungan gelap itu lahir. Masalah muncul, tatkala dua puluh tahun kemudian, sang anak yang ternyata perempuan, sebut saja Bunga beranjak dewasa dan hendak melangsungkan pernikahan. Entah karena awam tentang ilmu agama atau demi menutup rapat aibnya, Anton yang merasa sebagai bapak “biologis” Bunga serta suami sah Tini, merasa berhak menjadi wali nikah. Dan sebagaimana tradisi yang berlaku, Anton mewakilkan ijab si Bunga pada seorang naib. Akhirnya, Naib pun menikahkan Bunga, tentunya dalam akad nikahnya menyebutkan sighat taukil (misalnya: … muwakkilî)

Pertimbangan:
a.       Menyembunyikan aib perbuatan zina adalah anjuran
b.      Jika Bunga anak zina, seharusnya yang berhak menikahkan adalah Wali Hakim.

Pertanyaan:
a.       Bagaimana hukum wakalahnya?
b.      Bagaimana status pernikahan Bunga baik ketika shighat yang digunakan seperti di atas atau tidak?

Jawaban a:
Hukum wakalah dalam kasus ini terdapat perbedaan pendapat. Menurut Imam Syafi’i wakalah tersebut tidak sah. Sedangkan menurut Imam Hanafi hukumnya sah.

Jawaban b:
Jika hakim ketika menikahkan bertindak sebagai wakil (bukan sebagai wali ‘am), maka akadnya tidak sah. Adapun hubungan suami istri (persetubuhan wathi) yang sudah terjadi hukumnya syubhat, sehinga konsekwensinya mereka wajib diceraikan, lalu menjalani ‘iddah kemudian dinikahkan lagi secara benar.

Dasar Keputusan:
نهاية المحتاج ج 5 ص 111
(وَشَرْطُ الْمُوَكَّلِ فِيهِ أَنْ يَمْلِكَهُ الْمُوَكِّلُ) وَقْتَ التَّوْكِيلِ وَإِلَّا فَكَيْفَ يَأْذَنُ فِيهِ وَالْمُرَادُ مِلْكُ التَّصَرُّفِ فِيهِ النَّاشِئُ عَنْ مِلْكِ الْعَيْنِ تَارَةً وَالْوِلَايَةُ عَلَيْهِ أُخْرَى بِدَلِيلِ قَوْلِهِ أَوَّلَ الْبَابِ بِمِلْكٍ أَوْ وِلَايَةٍ وَلَا يُنَافِيهِ التَّفْرِيعُ الْآتِي لِأَنَّهُ يَصِحُّ عَلَى مِلْكِ التَّصَرُّفِ أَيْضًا فَقَوْلُ الْأَذْرَعِيِّ هَذَا أَيْ الْمَتْنُ فِيمَنْ يُوَكِّلُ فِي مَالِهِ وَإِلَّا فَنَحْوُ الْوَلِيِّ وَكَّلَ مَنْ جَازَ لَهُ التَّوْكِيلُ فِي مَالِ الْغَيْرِ لَا يَمْلِكُهُ غَيْرُ صَحِيحٍ لِمَا عُلِمَ مِنْ الْمَتْنِ أَنَّ الشَّرْطَ مِلْكُ مَحِلِّ التَّصَرُّفِ أَوْ مِلْكُ التَّصَرُّفِ فِيهِ عَلَى أَنَّ الْغَزِّيِّ اعْتَرَضَهُ أَعْنِي الْأَذْرَعِيَّ بِأَنَّ الشَّرْطَ مِلْكُ التَّصَرُّفِ لَا الْعَيْنِ وَمُرَادُهُ مَا قَرَّرْته أَنَّ مِلْكَ التَّصَرُّفِ يُفِيدُ مِلْكَ الْمَحِلِّ تَارَةً وَالْوِلَايَةَ عَلَيْهِ أُخْرَى وَرَدَّ بَعْضُهُمْ كَلَامَ الْغَزِّيِّ بِمَا لَا يَصِحُّ ...... وَأَلْحَقَ بِهِ الْأَذْرَعِيُّ الشَّرِيكَ وَبِمَا تَقَرَّرَ عُلِمَ أَنَّ شَرْطَ الْمُوَكَّلِ فِيهِ أَنْ يَمْلِكَ الْمُوَكِّلُ التَّصَرُّفَ فِيهِ حِينَ التَّوْكِيلِ أَوْ يَذْكُرُهُ تَبَعًا لِذَلِكَ أَوْ يَمْلِكَ أَصْلَهُ

الحاوى الكبير ج 10 ص 357 _358
فأما ان كان الزانية خلية وليست فراشا لأحد فمدهب الشافعي وجمهور الغقهاء ان الولد لايلحق بالزانى وان ادعاه ..... وقال ابو حنيفة إن تزوجها قبل وضعها ولوبيوم لحق به الولد وإن لم يتزوجها لم يلحق به .


KEPUTUSAN BAHTSUL MASAIL DINIYYAH SYURIYAH PWNU JAWA TIMUR
Di Pondok Pesantren Al Usymuni Tarate Pandian Sumenep Madura
10-11 Rajab 1430 H/03-04 Juli 2009 M

LDNU SUMENEP

About LDNU SUMENEP -

Silahkan koment dan berikan masukan anda tentang apa yang kami tulis, sehingga ada masukan yang bersifat positif demi tercapai ijtihad hukum yang baik.

Subscribe to this Blog via Email :